Judul : Rumah Malaikat
Penulis: Nurfadhilah Bahar
Penyunting: Yogi Vinanda
Design Cover: Ellyka
Penerbit : Kaifa Organizing
ISBN: 978-602-0827-03-2
Harga: Rp 48.000,- (belum ongkir)
Sinopsis :
Oktober 2013
Wahh, ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan yang cukup jauh. Mengunjungi sebuah daerah yang terletak di pegunungan bagian utara provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Tana Toraja merupakan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya. Hanya karena daerah yang satu ini memiliki peninggalan sejarah dan budaya yang unik sehingga tak ada waktu berpikir panjang untuk berkunjung ke daerah ini.
Jum’at 15 November 2013
Hari jum’at. Tak ada aktivitas yang melelahkan di luar rumah. Tepatnya di kampus. Sebenarnya ada kegiatan di kampus siang tadi, kajian rutin jurusan jurnalistik, namun ada saja godaan yang tak mampu tertepiskan. Malas menggerogoti. Itulah penyakit yang sulit diobati.
Ahad, 17 November 2013
Deru kendaraan bermotor roda dua membawa kami melaju di permukaan aspal. Awal perjalanan di mulai dari kampus II UIN Alauddin Makassar sekitar pukul 09.00. Pagi itu, rombongan para wartawan muda UKM LIMA Washilah memulai perjalanan mengelilingi Gowa dan Makassar. Perjalanan ini merupakan rangkaian kegiatan tour agar lebih dekat dan mengenal sedikit seluk beluk peninggalan sejarah masa lampau. Teringat kata Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Ya, kami akan menengok tempat-tempat yang bercorak budaya dan sejarah yang ada di Daerah Gowa dan Kota Makassar. Mengetahui sedikit dari banyak hal dan mengetahui banyak dari sedikit hal. Itu tujuan perjalanan kami.
 |
| Sumber : yuuchan-p.blogspot.com |
Oleh : Nurfadhilah Bahar
Saat hati mulai menombak anak matamu, bagai magnet cinta itu menarik tubuhku. Jantungku berdegup kencang. Dag dig dug! Berdentum-dentum mengalahkan hentakan jarum jam dinding di seperdua malamku. Ah, kau bagai hantu dalam kegelisahan tidurku. Ruang ini terasa sangat gelap, hitam, dan sunyi. Hanya dirimu yang ada. Hanya suaramu yang terdengar. Sudah jelas, kau membuatku jatuh cinta.
Oleh : Nurfadhilah Bahar
Hari
demi hari yang terus berlalu. Seorang gadis kecil duduk termenung diatas kursi
roda di taman belakang rumah. Wajahnya yang selalu ceria, kini tampak murung
menatap awan putih yang terus berjalan. Rambutnya ikal berwarna hitam, kulit
putih, pipinya yang tembam bak buah tomat, matanya begitu indah dan alisnya
yang tebal. Sungguh cantik gadis itu.
Seorang wanita paruh baya
menghampiri gadis itu dengan membawa sebuah kanvas dan cat air.
by : Nurfadhilah Bahar
Bukankah
hal yang benar jika dikatakan bahwa keyakinan Islamlah yang menempatkan
perempuan dalam posisi rendah. Walaupun Al-qur’an membuktikan bahwa
posisi perempuan dibawah laki-laki. Namun, Nabi Muhammad mengajarkan
kebaikan hati dan keadilan kepada perempuan.
Inilah adat di negeri kami yang harus di patuhi. Adat yang membiasakan
para lelaki bersikap kasar terhadap perempuan. Adat yang membiarkan
ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan.
***
Pagi berselimut dingin. Embun diluar sana seakan menyiratkan sesuatu. Badai besar akan datang. Namun, tak ’kan ada yang dapat menghalangiku untuk tetap keluar rumah sepagi itu. Kulangkahkan kakiku yang terasa berat akibat tumpukan salju yang menggumpal dipergelangan. Berjalan terus melawan badai salju yang mengerikan. Jejak-jejak kakiku disepanjang perjalanan akhirnya berhenti tepat dibawah pohon chesnut ini. Aku yakin, ia pasti akan datang.
Oleh : Nurfadhilah Bahar
Kemarin, aku lagi-lagi mendapati sebuah batangan cokelat panjang dan kertas putih berisi goresan sajak-sajak indah yang tergeletak di atas mejaku. Cokelat yang harganya sangat mahal itu tak menutup kemungkinan bahwa cokelat ini sungguh menggugah selera. Kunikmati setiap detik aroma dan rasa potongan cokelat yang kini meledak-ledak dilidahku. Dan ternyata lidah ini tak pernah mau berhenti untuk mencoba.
Benda apa yang paling kalian sayangi? Laptop? Blackberry? iPhone? Atau benda-benda lain yang sangat kalian sayangi hingga berkata “I can not live without it”? Lantas, apa yang terjadi jika benda-benda kesayangan kita itu rusak, atau hilang? Dan bagaimana jika kita kehilangan sahabat atau kekasih tercinta? Mungkin teman-teman dapat menyimak sebuah kisah yang dialami oleh sepasang kekasih ini. Baca yuk! Sederhana tapi mengharukan.
Aku terjaga ditengah malam. Nafasku terengah-engah dan wajahku basah oleh keringat yang bercucuran akibat energi yang terkuras tanpa kusadari. Aku tengah bermimpi buruk lagi. Entah mengapa mimpi buruk ini terus datang menghantuiku.