Ucapan Ultah dalam Bingkisan Surat Cinta

Sebuah surat cinta melayang untukku dari seseorang yang jauh di sana di hari ulang tahunku..

Maaf, tak ada kata yang bisa membalas ini kecuali menunjukkan pada dunia bahwa surat ini adalah saksi pertemuan kita yang singkat tapi indah untuk selamanya...
Semoga kita dapat bersua kembali.

Thanks  @dyakoya sudah memahamiku sedalam itu. Aku bahkan tidak begitu tahu tentang diriku. Ah, hadiah terbaik tahun ini.


Dear ka dilba. 
Pertama kali kita kenal, ketika kami baru sampai di rujab.  Kita duduk berlingkar,  saling mengenalkan diri.  
Saat itu,  yang widya ingat dari kakak hanyalah seorang ketua pelaksana.Karena sekilas dengar,  namamu sama seperti yang ada di surat-surat. 
Namun,  setelah itu,  widya lupa nama kakak.  Karena,  jujur widya agak susah mengingat nama orang jika hanya sekilas perkenalan seperti itu. 

Pembukaan,  saat 'Nurfadhilah Bahar' dipanggil untuk menyampaikan kata sambutan, widya begitu kagum dengan kakak.  Sudah menjadi rahasia umum,  bahwa menjadi ketua pelaksana bukanlah hal yang mudah.  Begitu banyak hal yang harus dikorbankan,  waktu,  tenaga,  dll.  Apalagi,  kakak seorang wanita,  bertahan di posisi ini pasti tidak mudah.  Belum tentu semua orang bisa melakukannya. 

Saat itu,  widya masih bingung dengan panggilan kakak.  "Harus aku panggil apa kakak ini?  Kak nur?  Kak nurfadhilah?  Ah,  kepanjangan.  Sudahlah. " 

Selanjutnya,  interaksi kita berdua adalah kita jalan pagi bersama-sama di sekitar Panakkukkang.  Semuanya begitu canggung,  tapi widya bertanya saja,  paling tidak kita tidak akan saling diam saat berjalan. Apakah widya sudah tau panggilan kakak?  Oh belum,  cukup yang membekas kakak adalah ketua pelaksana dan sekum. 

Akhirnya,  widya tau panggilan kakak. DILA,  tapi kok ada dua dila?  Sangat membingungkan.  Tapi,  lambat laun widya tau perbedaannya.  Kakak dipanggil Dilba,  kak Dila tetap Dila. 

Interaksi selanjutnya,  kita duduk bersama di meja makan.  Bergosip dengan kak zara,  nirma,  mba rizka dll. Ternyata,  kakak orang nya tidak terlalu pendiam.  Kakak asique! 

Setelah itu,  barulah kita pecahkan gap diantara kita.  Kita dekat.  

Ka Dilba, 
Jikalau widya disuruh menggambarkan bagaimana seharusnya widya sebagai wanita,  maka widya akan mengenang kakak. 
Kakak harus tau,  di balik kekurangan kita sebagai manusia.  Ada beberapa orang yang menggagumi kita.  And here i am.  Widya kagum sama kakak. 
Mulai dari kepribadian,  cara pikir hingga ke penampilan. 

Kepribadian, 
Kakak begitu kalem.  Baik, sabar juga,  sopan.  Aduh, kapan widya bisa sekalem, sebaik,  sesabar juga sesopan kakak? 

Kakak cerdas! 
Lelaki mana yang tak senang dengan wanita cerdas?  Ah,  tak usahkan lelaki.  Setiap orang pasti senang.

Penampilan?  Jangan tanya.  Begitu banyak perbedaan kita. 
Jaket,  baju,  rok,  jilbab dan sendal gunung. Tak beralaskan make up,  atau embel2 lipstik dll.  Tapi kakakk masih saja terlihat cantik,  manis dan anggun.  Semua hal tsb simpel dan sederhana,  memang. Tapi keren dan unik. 
Kakak,  bukan tipe wanita ribet.  Seperti widya hihiii. 

Widya dan nirma, pernah berbincang.  Yang intinya, kami sepakat, bahwa jikalau kami terlahir sebagai lelaki,  maka kakak adalah wanita yang akan kami nikahi.  Bagaimana tidak,  kakak kalem,  baik,  cantik,  manis,  keren,  cerdas dan soleha pulak.  Siapa yang tak mau?

Dear ka dilba. 
I am thanking for everything.  Terimakasih sudah menjadi kakak widya saat di Makassar dan berlanjut hingga sekarang. 
Terimakasih,  sudah menemani kami jalan2 di hari terakhir,  walau widya tau kakak pasti capek sekali.
Terimakasih atas segalanya. 
Keep doing good things for you and others.  Percayalah bahwa good deeds always earn  rewards. 

Dear ka dilba,  
Selamat ulang tahun. 
Semoga kakak panjang umur,  sehat selalu,  sukses dunia akhirat,  murah rezeki dll. 
Tetap semangat untuk bertahan di dunia yang begitu banyak gelombang ups and downs nya. 
Semangat pplnya ka dilba. Jangan lupa cari jodoh juga sekaligus ya. Hahaha

Kakak percaya takdir bukan?  Percayalah bahwa kita akan bertemu kembali,  secepatnya. Di lain hari,  waktu dan juga tempat. 
Selamat ulang tahun ka dilba. 
Me,  widya loves you very much. 

Warm regads, 
Widya.

Koala Kumal-nya si Radit

Gue nggak tahu sejak kapan suka sama Raditya Dika. Si Manusia Salmon yang tiap harinya ngebuli diri sendiri (lebih baik ngebuli diri sendiri daripada dibuli orang lain). Si Koala Kumal yang selalu ceritain kisah ektreemnya di dunia percintaan.

Betapa tragisnya hidup si Radit. Di buli sama fans-fansnya, dia fine-fine aja! Termasuk gue! Pertanyaan besar, kenapa gue ngefans sama dia? Bukan karena dia ganteng. Bukan! Sama sekali bukan! Bahkan adek gue bilang, dia memang mirip sama koala saat adek gue liat wujud dia dinovelnya berjudul ‘Koala Kumal’. Gue ngakak habis-habisan.

“Ngapain lo ketawa-ketawa sendiri?” tanya adik gue saat liat lagi ngakak sendirian di depan rumah. Maklum lagi jomblo, jadi gue sendirian aja bareng novelnya Radit sembari menatap awan dan merenung betapa malangnya nasib sang jomblo.

“Lagi baca novelnya Radit,” jawabku cuek.

“Mukanya Radit kek gimana, sih? Penasaran gue. Fansnya banyak, pasti mukanya ganteng.” Dia langsung ngerampas novel bersampul hijau itu.

“Oh... yang ini Raditya Dika?!” katanya sambil ketawa.

“Lho, kok ketawa?”

“Nggak! Gue cuma ketawa aja!” Udah gitu aja percakapan. Dia langsung pergi dan masuk ke dalam rumah. Entah apa sebab dia ketawa liat mukanya Radit. Kalau menurut gue sih, dia lagi M!!

Oh iya. Gue sampe lupa. Alasan gue suka sama Radit itu... ya... karena dia mirip sama mantan gue. Tepat sekali! Dia mirip banget mantan gue kalau lagi makan. Makannya nggak rakus sih, cuma anarkis banget, gue hampir aja dimakan kalau tidak pindah tempat duduk saat itu juga. Kalau jalan juga sok cool banget dan pantatnya miring sedikit. Kalau tidur, mukanya menghadap ke kiri, tangannya ke kanan, mulutnya monyong lima senti, dan kakinya ke atas. Gimana bentuknya ya? Apalagi kalau ngupil. Upilnya sebesar adonan kue. Tinggal dikasih tepung dan sayuran aja, udah hampir jadi ‘jalang kote’. Tapi sayangnya, seumur-umur, gue belum pernah ketemu sama Radit. Pernah sekali, di sebuah acara. Itu pun cuma sepatunya doang yang keliatan.

Ya, semenjak gue baca Koala Kumal-nya Radit. Semua perhatian gue tersita sama cerita dalam novel itu. Gue ngebayangin, gimana jadinya kalau gue jadi Raditya Dika. Yang setiap harinya diwarnai dengan kegalauan, kesendirian, kebisingan. Tapi untung banget, saat itu gue langsung keinget, kalau ternyata masih ada yang lebih tragis kisah cintanya dibanding gue.

Baik. Gue nggak perlu cerita panjang lebar. Ini kisah cinta yang nggak bakal pernah lo bayangin akan terjadi sama cewek anggun dan melankolis kayak gue. Bedalah dengan cerita-cerita serial film india di Antv. Setelah muncul Mahabharata, cerita tentang lima anak pandu yang menikah dengan satu wanita, ada Shakuntala, entah ceritanya kek gimana yang jelas ada kicah percintaannya. Lalu muncul Jodha Akbar, yang awalnya mereka saling benci, dijodohin karena politik, lalu lama-lama jadi cinta. Dulu, gue sering banget ngikutin film ini, tapi karena malas liat si Rukayya yang kadang baik kadang jahat, lama-lama gue jadi berubah baik, berubah jahat juga!

Setelah itu muncul, kalau nggak salah, siapa sih tuh yang manusia kera. Bukan kera sakti. Dewa kera. Ah, lupa namanya. Itu loh... Tepat! Hanoman. Gue nggak pernah ngikutin. Trus muncul lagi, Krisna, dan masih banyak lagi deh (maklum, gue pengamat media). Saat ini gue sedang suka-sukanya nonton Beintehaa, Mahaputra, Surya Putra Karna, Ashoka. Rentetan serial film yang gue tonton sambil tangan gue tak tik tuk keyboard. Jadi, mata gue ke tipi, tangan gue ke laptop. Mantap banget!
   
Aduh! Kok malah bahas film india. Gagal fokus! Baik, kita kembali ke masalah percintaan gue. Nggak penting, sih. Tapi, ini untuk pelajaran juga bagi follower gue di blog, instagram, facebook, twitter, dan line. Bahwa nge-jomblo itu enak lho. Bisa bebas ngapa-ngapain. Nggak gampang patah hati. Tapi sering di PHP-in. Kayak cerita di koala kumal-nya Radit. Kalau mau tahu ceritanya, baca aja sendiri. Nggak punya duit beli? Kasian. Pinjam dong! Gue aja pinjam di perpustakaan.
-___-

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama, tempat, alamat, mungkin itu hanya perasaan Anda.

Dr Firdaus MA: Berangkat dari Sebuah Visi, Spirit, dan Pilihan Hidup

Dr Firdaus MA
Jika ditanya siapa Tokoh yang paling berpengaruh dalam hidup Firdaus Muhammad, jawabannya “Ibu dan guru”. Berangkat dari sebuah visi, spirit, dan pilihan hidup, ia akhirnya telah menepati janjinya kepada sang Bunda untuk bersekolah sampai selesai.

Tahun 1999 Firdaus telah menjadi sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN, sekarang UIN Alauddin) Alauddin Ujung Pandang, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Ia melanjutkan kuliah S2 di IAIN Raden Intan Lampung dan meraih gelar doktornya pada tahun 2008. Pada saat itulah ia aktif menulis di dua media (lampung pos dan harian radar lampung) pada tahun 2001 sampai 2009.

Berbicara soal politik bagi Firdaus yang juga merupakan seorang pengamat politik dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Alauddin ini, menjadikan politik sebagai lahan dakwahnya.

“Berbicara politik itu bagi saya adalah dakwah. Saya melihat dakwah kita tidak cukup untuk berada di mimbar saja, tapi politik juga bisa menjadi sumber-sumber kebaikan. Karena di politik banyak sekali kemungkaran-kemungkaran dan kejahatan-kejahatan politik. Nah, makanya kita harus memperbaiki di ranah itu,” kata pria kelahiran Wajo, 20 Februari 1976 ini.

Melihat kondisi politik mahasiswa di kampus UIN Alauddin Makassar ini, Firdaus berpendapat bahwa pimpinan harus memediasi dan membimbing mahasiswa agar bisa menyelesaikan masalah poltik kampus.

“Yang pertama adalah faktor mahasiswa itu sendiri, yakni kejujuran dan kedewasaan berpolitik. Dan yang kedua adalah intervensi dari pimpinan untuk memediasi. Mahasiswa tidak bisa dibiarkan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa ada campur tangan dari pimpinan,” tuturnya.

Kecintaannya pada dunia politik dan berdakwah, melatarbelakanginya untuk selalu memproduksi sebuah tulisan. Sampai saat ini, tulisannya rutin setiap hari bisa ditemui pada dua sampai tiga media. Ia pernah mengisi kolom perspektif di Rakyat Sulsel dan Tribun Timur setiap harinya serta mengisi acara pada media televisi empat kali sehari.

Baginya, menulis sudah merupakan bagian dari hidupnya. “Menulis adalah pilihan hidup bagi saya. Saya sangat terobsesi untuk terus menulis, tapi bukan untuk mengejar popularitas.”

Ingin mengabadikan nama untuk dikenang dan bukan untuk dikenal yang merupakan prinsip hidupnya itu telah mengumpulkan sebanyak sepuluh judul buku. 
“Saya ingin mengabadikan nama dalam karya-karya. Mertua saya yang meninggal setahun yang lalu pernah mengatakan, ‘Firdaus, kau menulis. Karena menulis adalah pekerjaan ulama’.” kata Firdaus menirukan ucapan ayah mertuanya.
Firdaus sejak kecil ditempa pada kondisi prihatin. Perjuangannya selama menempuh pendidikan dan merantau dari kota ke kota patut dijadikan inspirasi.

Selain kesibukannya melakukan pengamatan-pengamatan politik, dia yang pernah menjadi dosen tetap di Universitas Raden Intan Lampung ini, juga sedang membina Pesantren An-Nadlah Makassar. Kesuksesan yang diraihnya sampai saat ini tak lepas dari pesan dan nasehat orang tua yang digenggamnya selama bertahun-tahun.

“Sejak tamat Tsanawiyah, Ibu saya meninggal. Beliau tidak pernah mewariskan apa-apa. Namun, beliau pernah mengatakan ‘saya akan terus menyekolahkan kamu sampai saya meninggal’, begitu kata Ibu saya,” kenangnya.

Sebuah perkataan yang saat itu hanya merupakan angin lalu baginya, tapi semenjak kepergian sang Bunda, kalimat itulah yang menjadi motivasinya untuk terus bersekolah.

“Saya akan meraih cita-citaku. Saya akan terus bersekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Hingga saya kembali memegang nisan kamu setelah saya menjadi doktor,” janjinya saat itu. Ia merupakan lulusan S3 terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2008.

“Harus ada spirit!” tegasnya seraya menitip harapan agar mahasiswa menanamkan spiritnya untuk terus belajar dan berusaha meraih cita-citanya.  “Spirit saya adalah amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar).” Mungkin dari spirit itu, kini ia telah membuahkan hasil yang indah. (Nurfadhilah Bahar--Tabloid edisi ke-89| Agustus 2014)
Data Diri

Nama : Dr Firdaus MA
Tempat Tanggal Lahir : Wajo 20 Februari 1976
Alamat     : Jl. tinumbu, Lr. 149/6a Makassar
Pendidikan :
-    Pesantren As’sadiyah Wajo (1992)
-    Pesantren An Nadlah Makassar (1995)
-    S1 IAIN Alauddin Makassar (1999)
-    S2 IAIN Raden Intan Lampung (2003)
-    S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008)
Pekerjaan :
-    Dosen komunikasi politik UIN Alauddin Makassar
-    Guru pesantren An-Nadlah Makassar
Istri : Khaerun Nisa Harisah SPdI MA
Anak :
-    Malihatul Wajhi
-    Ahmad dahiyah

Prof Dr Musafir MSi: Merintis Karir Panjang, Berjenjang, dan Tak Gampang

Pengumuman Giveaway #RumahMalaikat

Assalamualaikum... Hai Hai Hai...

Yang lagi nungguin pengumuman giveaway Novel #RumahMalaikat, siapa? Ayo ngaku?? :p

Nah, Giveaway ini adalah yang pertama kalinya saya gelar, dan novel Rumah Malaikat adalah karya pertama saya. Sesuai perjanjian, pengumuman giveaway #RumahMalaikat akan diumumkan hari ini tepatnya tanggal 13 September 2015.

Ada beberapa orang yang ikut giveaway ini. Jawabannya bagus-bagus, sampai-sampai saya bingung mau ngasih ke siapa.Tapi, ada satu orang yang paling 'bagus' menurut saya dan memenuhi segala persyaratan. Dan pemenangnya adalah...

Jurang Nestapa

Menelungkup dalam keputusasaan. Tak ada lagi harapan hidup, semua musnah ditelan penyesalan. Ya, aku benar-benar menyesal. Di balik jeruji besi ini, aku hanya bisa melamun, tidur, melamun, tidur, dan yang paling parah meringis kesakitan. Hanya kesendirian dan kesepian menemani kebodohanku. Rambutku yang kusam terurai panjang menutupi seluruh raut wajahku yang penuh dosa dan nista. Tak terhitung berapa banyak kutu yang beranak pinak berpesta pora dikepalaku. Tak peduli suara gaduh disekitarku, suara orang-orang depresi, dan suara orang-orang diseret polisi hingga terkapar masuk ke dalam penjara keabadian ini. Malu! Masih pantaskah aku berkata malu?

Masa-masa itu berkelebat di sarang otakku. Mataku terlalu sayup menerawang kembali sisa-sisa kebahagiaan yang ku rajut bersamanya. Aku tak pernah dendam kepadanya. Perasaan itu masih sama. Tak pernah berubah semenjak aku mengenalnya. Tapi, sangat sulit untuk memaafkan, terlalu sulit.

Belajar Investigasi di Pulau Dewata

Tabloid Washilah Edisi September 2015
Bali merupakan salah satu daerah agrowisata paling banyak diminati orang-orang lokal maupun mancanegara ini, menjadi salah satu tujuan perjalanan anggota UKM LIMA Washilah dalam menimba ilmu jurnalistik.

Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Bali Journalist Week (BJW) 2015 yang digelar dua tahun sekali oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Akademika Universitas Udayana (Unud) Bali ini mengundang LPM seluruh Indonesia. BJW 2015 ini berlangsung sejak 10-14 Agustus 2015 dengan tajuk, Jurnalisme Investigasi: Jelajah Kausa Menguak Faktualitas.

Novel Rumah Malaikat

Judul : Rumah Malaikat

Penulis: Nurfadhilah Bahar

Penyunting: Yogi Vinanda

Design Cover: Ellyka

Penerbit : Kaifa Organizing

ISBN: 978-602-0827-03-2

Harga: Rp 48.000,- (belum ongkir)

Sinopsis :

Join ke Toraja Bareng Alumni IRM/IPM

Oktober 2013

Wahh, ini adalah kali pertama aku melakukan perjalanan yang cukup jauh. Mengunjungi sebuah daerah yang terletak di pegunungan bagian utara provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Tana Toraja merupakan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya. Hanya karena daerah yang satu ini memiliki peninggalan sejarah dan budaya yang unik sehingga tak ada waktu berpikir panjang untuk berkunjung ke daerah ini.

PJMTD UKM LIMA Washilah

Jum’at 15 November 2013

Hari jum’at. Tak ada aktivitas yang melelahkan di luar rumah. Tepatnya di kampus. Sebenarnya ada kegiatan di kampus siang tadi, kajian rutin jurusan jurnalistik, namun ada saja godaan yang tak mampu tertepiskan. Malas menggerogoti. Itulah penyakit yang sulit diobati.

Menengok Kembali Sejarah Bangsa (Tour Gowa-Makassar)

Ahad, 17 November 2013

Deru kendaraan bermotor roda dua membawa kami melaju di permukaan aspal. Awal perjalanan di mulai dari kampus II UIN Alauddin Makassar sekitar pukul 09.00. Pagi itu, rombongan para wartawan muda UKM LIMA Washilah memulai perjalanan mengelilingi Gowa dan Makassar. Perjalanan ini merupakan rangkaian kegiatan tour agar lebih dekat dan mengenal sedikit seluk beluk peninggalan sejarah masa lampau. Teringat kata Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Ya, kami akan menengok tempat-tempat yang bercorak budaya dan sejarah yang ada di Daerah Gowa dan Kota Makassar.  Mengetahui sedikit dari banyak hal dan mengetahui banyak dari sedikit hal. Itu tujuan perjalanan kami.

Malaikat Kiriman Tuhan

Sumber : yuuchan-p.blogspot.com
Oleh : Nurfadhilah Bahar

Saat hati mulai menombak anak matamu, bagai magnet cinta itu menarik tubuhku. Jantungku berdegup kencang. Dag dig dug! Berdentum-dentum mengalahkan hentakan jarum jam dinding di seperdua malamku. Ah, kau bagai hantu dalam kegelisahan tidurku. Ruang ini terasa sangat gelap, hitam, dan sunyi. Hanya dirimu yang ada. Hanya suaramu yang terdengar. Sudah jelas, kau membuatku jatuh cinta.

Cerpen : Kuas Pemberian Mama


 Oleh : Nurfadhilah Bahar

Hari demi hari yang terus berlalu. Seorang gadis kecil duduk termenung diatas kursi roda di taman belakang rumah. Wajahnya yang selalu ceria, kini tampak murung menatap awan putih yang terus berjalan. Rambutnya ikal berwarna hitam, kulit putih, pipinya yang tembam bak buah tomat, matanya begitu indah dan alisnya yang tebal. Sungguh cantik gadis itu.
            Seorang wanita paruh baya menghampiri gadis itu dengan membawa sebuah kanvas dan cat air.

Afgan Idamanku



By: Nurfadhilah Bahar

            Aku tak sanggup melihat wajahnya yang sungguh memesona. Rambutnya sedikit gondrong dan ikal. Kulitnya yang kecokelatan dan memakai kacamata. Lesung pipit yang menggairahkan. Benar-benar  tipe cowok yang ku idam-idamkan. Gayanya yang keren mirip artis beken. Afgan. Ya, aku sering menyebutnya Afgan semenjak aku belum kenal namanya. Walaupun saat ini aku sudah tahu namanya yang asli, aku akan tetap menyebutnya Afgan. Karena wajahnya selalu mengalihkan duniaku.

Wanita Oleh Kekangan Adat

by : Nurfadhilah Bahar
Bukankah hal yang benar jika dikatakan bahwa keyakinan Islamlah yang menempatkan perempuan dalam posisi rendah. Walaupun Al-qur’an membuktikan bahwa posisi perempuan dibawah laki-laki. Namun, Nabi Muhammad mengajarkan kebaikan hati dan keadilan kepada perempuan.

            Inilah adat di negeri kami yang harus di patuhi. Adat yang membiasakan para lelaki bersikap kasar terhadap perempuan. Adat yang membiarkan ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan.
***

Under Our Chestnut

Pagi berselimut dingin. Embun diluar sana seakan menyiratkan sesuatu. Badai besar akan datang. Namun, tak ’kan ada yang dapat menghalangiku untuk tetap keluar rumah sepagi itu. Kulangkahkan kakiku yang terasa berat akibat tumpukan salju yang menggumpal dipergelangan. Berjalan terus melawan badai salju yang mengerikan. Jejak-jejak kakiku disepanjang perjalanan akhirnya berhenti tepat dibawah pohon chesnut ini. Aku yakin, ia pasti akan datang.

Coklat dan Pria Misterius

Oleh : Nurfadhilah Bahar
Kemarin, aku lagi-lagi mendapati sebuah batangan cokelat panjang dan kertas putih berisi goresan sajak-sajak indah yang tergeletak di atas mejaku. Cokelat yang harganya sangat mahal itu tak menutup kemungkinan bahwa cokelat ini sungguh menggugah selera. Kunikmati setiap detik aroma dan rasa potongan cokelat yang kini meledak-ledak dilidahku. Dan ternyata lidah ini tak pernah mau berhenti untuk mencoba.

Sebuah Keajaiban yang Tak Terduga

Terkesan. Ku buat tepat dihari ulang tahunku yang ke 17. Atas rasa bersyukurku terhadap karunia Allah SWT yang telah memberiku umur yang panjang, maka terbitlah cerpen yang berjudul Sebuah Keajaiban Yang Tak Terduga. Yang mengajak kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Cerita sederhana, tapi bermakna untukku. Semoga juga dapat bermanfaat bagi teman-teman. Selamat membaca! ^_^

*
Matahari di ufuk timur kini menyemburkan serangan berupa cahaya keemasan. Cahaya yang luar biasa hingga menembus dinding kaca setiap rumah. Helen yang sedang tertidur pulas di atas ranjang empuknya membuatnya terbangun karena Mama membuka tirai jendela lebar-lebar. Matanya silau akibat kena terpaan sinar matahari pagi.

Dan Ternyata Mimpi Itu

Benda apa yang paling kalian sayangi? Laptop? Blackberry? iPhone? Atau benda-benda lain yang sangat kalian sayangi hingga berkata “I can not live without it”? Lantas, apa yang terjadi jika benda-benda kesayangan kita itu rusak, atau hilang? Dan bagaimana jika kita kehilangan sahabat atau kekasih tercinta? Mungkin teman-teman dapat menyimak sebuah kisah yang dialami oleh sepasang kekasih ini. Baca yuk! Sederhana tapi mengharukan.

Aku terjaga ditengah malam. Nafasku terengah-engah dan wajahku basah oleh keringat yang bercucuran akibat energi  yang terkuras tanpa kusadari. Aku tengah bermimpi buruk lagi. Entah mengapa mimpi buruk ini terus datang menghantuiku.

Pertemuan Singkat di Tahun Baru

Selamat Datang 2013. ^^ Alhamdulillah, kita masih diberikan umur yang panjang sehingga kita dapat berjumpa dengan tahun 2013 ini. Nah, teman-teman kali ini aq punya postingan cerpen karangan fiksi yang bercerita tentang pertemuan di tahun baru. Dibaca yah. :)

*

Aku tidak menyangka dapat bertemu diwaktu itu dan berpisah di waktu yang sama pula. Kalian pasti berpikir, aku bertemu dengannya hanya sehari saja. Bukan. Tidak demikian. Tapi, aku bahkan dapat mengenalnya selama setahun. Entahlah. Mungkin sesingkat ini pertemuan kita. Kita tak dapat melawan takdir. Takdir yang mempertemukan, takdir pula yang memisahkan. Kita memang tak sejalan. Tapi, alangkah baiknya jika kita saling mengingat dan membuat kenangan itu tak pernah melebur bersama waktu. Kenangan tentang harapan-harapan yang pernah kita ucapkan. Kenangan tentang melodi-melodi yang kau dendangkan. Hingga kau telah mengubah segalanya. Inilah secuil tentang kisah yang pernah kita jalani bersama.